Belati adalah sejenis senjata tajam yang fungsinya untuk menusuk atau menikam. Penggunaannya dapat dengan cara digenggam atau dilemparkan. Ukurannya dapat lebih kecil atau lebih besar daripada pisau. Senjata ini memiliki rentang sejarah yang panjang dan ada banyak jenisnya. Di Indonesia, senjata sejenis belati yang terkenal adalah rencong dan keris.
Sunday, 24 February 2013
belati
Belati adalah sejenis senjata tajam yang fungsinya untuk menusuk atau menikam. Penggunaannya dapat dengan cara digenggam atau dilemparkan. Ukurannya dapat lebih kecil atau lebih besar daripada pisau. Senjata ini memiliki rentang sejarah yang panjang dan ada banyak jenisnya. Di Indonesia, senjata sejenis belati yang terkenal adalah rencong dan keris.
golok
Keragaman etnis dan budaya menjadi ciri khas
dan kekayaan tersendiri bangsa Indonesia, dibandingkan dengan
bangsa-bangsa lain. Uniknya, setiap etnis di Indonesia memiliki senjata
khas yang menjadi simbol kebesaran dari sejumlah etnis tersebut. Etnis
Jawa misalnya, memiliki keris sebagai senjata kebesaran mereka, etnis
Sunda terkenal dengan kujangnya, etnis Madura terkenal dengan
celuritnya, dan etnis Betawi yang masyhur dengan Golok Betoknya yang
berumur 800 tahun.Sebagai sebuah senjata pusaka, keberadaan Golok Betok merupakan fase awal asal muasal senjata dalam sejarah nusantara. Bahkan, sebelum senjata khas Jawa Barat kujang ada, Golok Betok sudah ada konsepnya terlebih dahulu. Namun, karena Kerajaan Padjajaran memohon kepada Sang Empu agar dibuatkan secepatnya sebuah senjata bernama kujang, pembuatan Golok Betok menjadi tertunda.
“Saat ini keberadaan Golok Betok yang dulunya biasa digunakan para jagoan dari Betawi sudah hampir punah,” cerita Aziz Munandar, ahli pengobatan tradisional yang juga salah seorang kolektor benda berharga yang dikutip dari situs Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Di tangannya, senjata pusaka berusia 800 tahun itu terlihat masih terawat dengan baik, dan tidak sembarang orang bisa melihatnya dari dekat. Karena keberadaannya yang mulai langka, Azis menjamin hanya segelintir orang saja yang masih memilikinya. Kalau pun ada di tangan orang awam, bisa jadi Golok Betok itu adalah golok imitasi yang tidak memiliki sejarah panjang sebagaimana Golok Betok miliknya.
Menurut Azis, Golok Betok dibuat lebih awal dari pisau raus, gaman, ataupun keris. Azis meyakinkan jika Golok Betok yang menjadi koleksi miliknya itu adalah asli. Bentuk badan dan mata pisau yang terbuat dari baja hitam dengan gagang gayu hitam atau gading menandakan keaslian senjata pusaka khas Betawi tersebut. “Saya berani bertaruh kalau senjata yang ada ini asli,” katanya.
Tak hanya Golok Betok senjata peninggalan Betawi yang menjadi koleksi pribadi Azis Munandar. Beberapa senjata kuno Betawi yang berumur ratusan tahun pun masih tersimpan rapi dan terawat di kediamannya. Beberapa senjata khas Betawi miliknya adalah kujang Betawi yang juga berusia 800 tahun, pisau raus berusia 500 tahun, dan pedang cengkrong yang berusia 600 tahun berbentuk melengkung pada bagian punggungnya.
Pedang ini merupakan satu-satunya pedang yang tersisa. Hal tersebut telah dibuktikannya setelah Azis berkali-kali menghadiri pameran senjata Betawi. Tak ada senjata jenis pedang cengkrong. Jika pun ada dipastikan itu pedang buatan atau imitasi.
Azis menyebutkan saat ini koleksi senjata pusaka khas Betawi tinggal berjumlah 5 buah. Sementara koleksi senjata nusantara yang dimilikinya berjumlah lebih dari 200 buah, mulai dari pedang hingga keris. Dirinya juga mengklaim beberapa benda pusaka koleksinya merupakan milik tokoh sejarah ternama antara lain pisau Pangeran Jayakarta dan keris peninggalan Aru Palaka
Friday, 22 February 2013
panceg
Kalian pasti sering ngeliat sekumpulan anak muda yang berkepala botak plontos, berjalan memakai sepatu boots dan berjaket dengan beberapa tempelan emblem. Mereka kerap dikenal dengan sebutan Skinheads. Apa sih sebenernya Skinhead itu? Fashion sajakah? Atau benar-benar gaya hidup? Mau tau penjelasannya mending kita simak penelusuran saya kali ini.
Awalnya, saya sempet mikir kalo Skinhead tuh berasal dari negeri Jerman. Kayaknya Skinhead nih influence pemikiran rasis yang dibentuk dalam gaya hidup dan tren anak muda pada zaman Hitler.
Apalagi setelah nonton film American History yang menceritakan kehidupan kaum Skinhead di Amerika sana. Dalam film tersebut seolah diceritakan bahwa Skinhead adalah sekelompok anak muda yang sangat membenci bangsa kulit hitam. Sekelompok anak muda yang digambarkan dengan kelakuan brutal, bengis, dan berbagai penyiksaan yang dilakukan terhadap bangsa kulit hitam.
Weitt, ternyata simpulan awal saya salah total! Hampir saja saya mengubah perkembangan sejarah murni Skinhead. Skinhead yang saya anggap rasis tersebut ternyata bukan asli budaya Skinhead. Skinhead yang rasis tersebut hanya sekumpulan anak muda yang dimanfaatkan oleh sekumpulan pihak dan kepentingan tertentu.
Selidik punya selidik ternyata Skinhead merupakan subbudaya anak muda yang lahir di Inggris pada tahun 1960-an. budaya tersebut berasal dari perpaduan kehidupan pemuda Jamaika (rude boy) dan kaum Moods. Alhasil, karena mereka senang berkumpul dalam tempat nongkrong yang sama. "Dengan kebiasan nakal pemuda saat itu serta kesukaan yang sama terhadap musik ska dan musik berirama two tones. Akhirnya lahirlah musik Oi! Dan komunitas Skinhead," ucap Iyay, gitaris Sanfranskins.
Namun sejak mulai bermunculan kaum imigran di Inggris, seperti bangsa Pakistan, Cina, dan imigran Asia lainnya. Beberapa kaum Skinhead di Inggris memusuhi kaum imigran tersebut. Mungkin bila dilihat dalam film "Romper Stomper " pemicu kebencian kaum skinhead adalah karena para Imigran tersebut dianggap telah merebut lahan pekerjaan yang ada di Inggris.
Memasuki tahun 1960 akhir, sebenarnya konflik kaum Skinhead dengan para imigran tersebut masih dikatakan taraf biasa. Komunitas Skinhead tidak tergabung dalam gerakan politik rasial apa pun. Namun, ketika memasuki tahun 1970-an beberapa kaum Skinhead yang memusuhi kaum imigran tersebut mulai memasuki pergerakan nasionalis ekstrem, seperti National Front, British Movement, Rock Against Communism, dan Blood and Honour. Dalam image seperti inilah kemudian budaya kaum Skinhead mulai terkikis menjadi pergerakan politik berpakaian Skinhead.
Ups, jadi teringat percakapan saya bersama Iyay. Cukup panjang lebar juga Iyay bercerita mengenai perkembangan komunitas skinhead di Bandung sendiri, bahkan sampai masalah persoalan tali sepatu boots yang dianggap simbol rasis dalam Skinhead. "Skinhead itu sebenarnya bukan gerakan Neo-Nazi atau gerakan politik apa pun. Adapun pencitraan rasis. Itu hanya pemanfaatan penyebaran isme dalam pencinta musik Oi! Dan Skinhead," Ucap Iyay
Cukup menarik juga bukan? Ayo kita kembali menelisik sejarah Skinhead! Setelah cukup lama skinhead dicitrakan sebagai pergerakan politik rasis, akhirnya kira-kira pada tahun 1988 di Kota New York Marcus Pacheco beserta teman-temannya mendeklarasikan Skinhead Against Rasial Prajudice (S.H.A.R.P.) hal tersebut mewakili kaum Skinhead yang sudah mulai muak dengan rasisme dan pergerakan politik ekstrem dalam komunitas Skinhead. Kemudian pada tahun 1989 Roddy Moreno, personil The Oppressed berkunjung dan bertemu dengan anggota S.H.A.R.P., sepulangnya kembali ke Inggris. Ia mulai menyebarkan S.H.A.R.P. kepada komunitas Skinhead di Inggris.
Yah, seperti itulah perkembangan Skinhead yang mulai dikenal dengan kaum neo-nazi, akhirnya terselamatkan dengan asosiasi S.H.A.R.P. Sedikit cerita mengenai perkembangan Skinhead di Kota bandung sendiri. Perkembangan budaya tersebut menurut Juki, gitaris Renternir, menyebar tanpa terorganisasi secara sengaja dalam kehidupan anak muda saat ini. Pengetahuan anak muda Bandung sendiri mengenai Skinhead berawal dari media online (internet), yang kemudian mengalir dari pembicaraan mulut ke mulut dan menjadi salah satu perkumpulan subculture musik underground di Kota Bandung.
keris
Keris
adalah sejenis senjata tikam khas,yang bermata dua,dan seringkali
bentuknya tidak simetris alias berliku-liku dan banyak di antaranya
memiliki pamor (damascene), yaitu guratan-guratan ukiran logam cerah
pada helai bilah dari Indonesia tercinta. Berdasarkan dokumen-dokumen
purbakala, keris dalam bentuk awal telah digunakan sejak abad ke-9. Kuat
kemungkinannya bahwa keris telah digunakan sebelum masa tersebut.
Sebenarnya,Penggunaan keris sendiri tersebar di masyarakat rumpun Melayu. Pada masa sekarang, keris umum dikenal di daerah Indonesia
(terutama di daerah Jawa, Madura, Bali/Lombok, Sumatra, sebagian
Kalimantan, serta sebagian Sulawesi), Malaysia, Brunei, Thailand, dan
Filipina (khususnya di daerah Mindanao) dan Keris di setiap
daerah memiliki kekhasan sendiri-sendiri dalam penampilan, fungsi,
teknik garapan, serta peristilahan.Di Mindanao, bentuk senjata yang juga
disebut keris tidak banyak memiliki kemiripan meskipun juga merupakan
senjata tikam.
Sebenarnya,Penggunaan keris sendiri tersebar di masyarakat rumpun Melayu. Pada masa sekarang, keris umum dikenal di daerah Indonesia
(terutama di daerah Jawa, Madura, Bali/Lombok, Sumatra, sebagian
Kalimantan, serta sebagian Sulawesi), Malaysia, Brunei, Thailand, dan
Filipina (khususnya di daerah Mindanao) dan Keris di setiap
daerah memiliki kekhasan sendiri-sendiri dalam penampilan, fungsi,
teknik garapan, serta peristilahan.Di Mindanao, bentuk senjata yang juga
disebut keris tidak banyak memiliki kemiripan meskipun juga merupakan
senjata tikam.
Asal-usul keris belum
sepenuhnya terjelaskan karena tidak ada sumber tertulis yang deskriptif
mengenainya dari masa sebelum abad ke-15, meskipun penyebutan istilah "keris"
telah tercantum pada prasasti dari abad ke-9 Masehi. Kajian ilmiah
perkembangan bentuk keris kebanyakan didasarkan pada analisis figur di
relief candi atau patung. Sementara itu, pengetahuan mengenai fungsi
keris dapat dilacak dari beberapa prasasti dan laporan-laporan penjelajah asing ke Nusantara.
Awal
mulanya adalah Pengaruh dari India-Tiongkok.Dugaan pengaruh kebudayaan
Tiongkok Kuna dalam penggunaan senjata tikam, sebagai cikal-bakal
keris,Senjata tajam dengan bentuk yang diduga menjadi sumber inspirasi
pembuatan keris dapat ditemukan pada peninggalan-peninggalan perundagian
dari Kebudayaan Dongson dan Tiongkok selatan. Sejumlah
keris masa kini untuk keperluan sesajian memiliki gagang berbentuk
manusia (tidak distilir seperti keris modern), sama dengan belati
Dongson, dan menyatu dengan bilahnya.
Sikap menghormati berbagai benda-benda garapan logam dapat ditelusuri sebagai pengaruh India, khususnya Siwaisme. Prasasti Dakuwu (abad ke-6) menunjukkan ikonografi India yang menampilkan "wesi aji" seperti trisula, kudhi, arit, dan keris sombro. Para sejarawan umumnya bersepakat, keris dari periode pra-Singasari dikenal sebagai "keris Buda", yang berbentuk pendek dan tidak berluk (lurus), dan dianggap sebagai bentuk awal (prototipe) keris. Beberapa belati temuan dari kebudayaan Dongson memiliki kemiripan dengan keris Buda dan keris sajen.
Sikap menghormati berbagai benda-benda garapan logam dapat ditelusuri sebagai pengaruh India, khususnya Siwaisme. Prasasti Dakuwu (abad ke-6) menunjukkan ikonografi India yang menampilkan "wesi aji" seperti trisula, kudhi, arit, dan keris sombro. Para sejarawan umumnya bersepakat, keris dari periode pra-Singasari dikenal sebagai "keris Buda", yang berbentuk pendek dan tidak berluk (lurus), dan dianggap sebagai bentuk awal (prototipe) keris. Beberapa belati temuan dari kebudayaan Dongson memiliki kemiripan dengan keris Buda dan keris sajen.
kujang bermata sembilan
Kujang bermata 9 hanya untuk pegangan para Raja. Mata 7 untuk para Mantri dangka/Prabu Anom dan para Pandita. Mata 5 untuk para Girang Seurat, Bupati Pamingkis dan Bupati Pakuan.
Mata 3 untuk para Guru Tangtu Agama
dan Mata 1 untuk Pangwereg Agama. Pusaka Kujang terbagi empat (4) yaitu
Kujang Pusaka (lambang keagungan dan perlindungan keselamatan), Kujang
Pakarang (untuk berperang), Kujang Pangarak (untuk alat upacara), dan
Kujang Pamangkas (untuk alat berladang).
Sedang berdasar bentuk bilah ada yang
disebut Kujang Jago (bentuk ayam jago), Kujang Ciung (burung Ciung),
Kujang Kuntul (burung Kuntul/bango), Kujang Badak (Badak), Kujang Naga
(bentuk Naga) dan Kujang Bangkong (bentuk Katak).
Sehingga dalam menerima pesanan Kujang untuk pusaka, Abah Wahyu Affandi Suradinata
tidak sembarangan memberikan Kujang yang dipesan. Akan tetapi dilihat
melalui nama dan hari lahir serta silsilah orang tersebut. Dan melalui
olah Tapa Samadhi untuk menentukan mana jenis Kujang yang cocok untuk
orang tersebut. Kecuali bila Kujang dimaksudkan hanya untuk sekedar
hadiah Cindera Mata maupun Souveniryang bersifat karya seni, maka tidak perlu melalui rangkaian tersebut.
kujang
Kujang dikenal sebagai benda tradisional masyarakat Jawa Barat (Sunda) yang memiliki nilai sakral serta mempunyai kekuatan magis. Beberapa peneliti[siapa?] menyatakan bahwa istilah "kujang" berasal dari kata kudihyang (kudi dan Hyang. Kujang (juga) berasal dari kata Ujang, yang berarti manusia atau manusa. Manusia yang sakti sebagaimana Prabu Siliwangi.
Kudi
diambil dari bahasa Sunda Kuno yang artinya senjata yang mempunyai
kekuatan gaib sakti, sebagai jimat, sebagai penolak bala, misalnya untuk
menghalau musuh atau menghindari bahaya/penyakit[rujukan?].
Senjata ini juga disimpan sebagai pusaka, yang digunakan untuk
melindungi rumah dari bahaya dengan meletakkannya di dalam sebuah peti
atau tempat tertentu di dalam rumah atau dengan meletakkannya di atas
tempat tidur (Hazeu, 1904 : 405-406). Sementara itu, Hyang dapat
disejajarkan dengan pengertian Dewa dalam beberapa mitologi, namun bagi
masyarakat Sunda Hyang mempunyai arti dan kedudukan di atas Dewa, hal
ini tercermin di dalam ajaran “Dasa Prebakti” yang tercermin dalam
naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian disebutkan “Dewa bakti di
Hyang”.
Secara umum, Kujang mempunyai pengertian sebagai pusaka yang mempunyai kekuatan tertentu yang berasal dari para dewa (=Hyang), dan sebagai sebuah senjata, sejak dahulu hingga saat ini Kujang menempati satu posisi yang sangat khusus di kalangan masyarakat Jawa Barat (Sunda). Sebagai lambang atau simbol dengan niali-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, Kujang dipakai sebagai salah satu estetika dalam beberapa lambang organisasi serta pemerintahan. Disamping itu, Kujang pun dipakai pula sebagai sebuah nama dari berbagai organisasi, kesatuan dan tentunya dipakai pula oleh Pemda Propinsi Jawa Barat.
Di masa lalu Kujang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda karena fungsinya sebagai peralatan pertanian. Pernyataan ini tertera dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M) maupun tradisi lisan yang berkembang di beberapa daerah diantaranya di daerah Rancah, Ciamis. Bukti yang memperkuat pernyataan bahwa kujang sebagai peralatan berladang masih dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy, Banten dan Pancer Pangawinan di Sukabumi.
Kudi
diambil dari bahasa Sunda Kuno yang artinya senjata yang mempunyai
kekuatan gaib sakti, sebagai jimat, sebagai penolak bala, misalnya untuk
menghalau musuh atau menghindari bahaya/penyakit[rujukan?].
Senjata ini juga disimpan sebagai pusaka, yang digunakan untuk
melindungi rumah dari bahaya dengan meletakkannya di dalam sebuah peti
atau tempat tertentu di dalam rumah atau dengan meletakkannya di atas
tempat tidur (Hazeu, 1904 : 405-406). Sementara itu, Hyang dapat
disejajarkan dengan pengertian Dewa dalam beberapa mitologi, namun bagi
masyarakat Sunda Hyang mempunyai arti dan kedudukan di atas Dewa, hal
ini tercermin di dalam ajaran “Dasa Prebakti” yang tercermin dalam
naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian disebutkan “Dewa bakti di
Hyang”.Secara umum, Kujang mempunyai pengertian sebagai pusaka yang mempunyai kekuatan tertentu yang berasal dari para dewa (=Hyang), dan sebagai sebuah senjata, sejak dahulu hingga saat ini Kujang menempati satu posisi yang sangat khusus di kalangan masyarakat Jawa Barat (Sunda). Sebagai lambang atau simbol dengan niali-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, Kujang dipakai sebagai salah satu estetika dalam beberapa lambang organisasi serta pemerintahan. Disamping itu, Kujang pun dipakai pula sebagai sebuah nama dari berbagai organisasi, kesatuan dan tentunya dipakai pula oleh Pemda Propinsi Jawa Barat.
Di masa lalu Kujang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda karena fungsinya sebagai peralatan pertanian. Pernyataan ini tertera dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M) maupun tradisi lisan yang berkembang di beberapa daerah diantaranya di daerah Rancah, Ciamis. Bukti yang memperkuat pernyataan bahwa kujang sebagai peralatan berladang masih dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy, Banten dan Pancer Pangawinan di Sukabumi.
"Segala macam hasil tempaan, ada tiga macam yang berbeda. Senjata sang prabu ialah: pedang, abet (pecut), pamuk, golok, peso teundeut, keris. Raksasa yang dijadikan dewanya, karena digunakan untuk membunuh. Senjata orang tani ialah: kujang, baliung, patik, kored, pisau sadap. Detya yang dijadikan dewanya, karena digunakan untuk mengambil apa yang dapat dikecap dan diminum. Senjata sang pendeta ialah: kala katri, peso raut, peso dongdang, pangot, pakisi. Danawa yang dijadikan dewanya, karena digunakan untuk mengerat segala sesuatu, Itulah ketiga jenis senjata yang berbeda pada sang prebu, pada petani, pada pendeta. Demikianlah bila kita ingin tahu semuanya, tanyalah pandai besi."Dengan perkembangan kemajuan, teknologi, budaya, sosial dan ekonomi masyarakat Sunda, Kujang pun mengalami perkembangan dan pergeseran bentuk, fungsi dan makna. Dari sebuah peralatan pertanian, kujang berkembang menjadi sebuah benda yang memiliki karakter tersendiri dan cenderung menjadi senjata yang bernilai simbolik dan sakral. Wujud baru kujang tersebut seperti yang kita kenal saat ini diperkirakan lahir antara abad 9 sampai abad 12.
— Sanghyang siksakanda ng karesian pupuh XVII.
kendang kempul
Kendang Kempul
Di Jawa Timur berkembang pula musik etnic yang hampir mirip dengan campursari, yakni musik kendang kempul yang berkembang di Banyuwangi dan sekitarnya. Musik ini hampir berbarengan munculnya dengan campursari. Namun alat musik yang digunakan hanya Kendang, Kempul dan suling yang digabungkan dengan gitar dan keyboard serta seringkali juga biola.
Musik kendang kempul ini selain berkembang di Banyuwangi, juga merambah ke daerah sekitarnya. Sebut saja Jember, Bondowoso, Situbondo, Probolinggo dan sekitarnya. Tak jarang lagu-lagu kendang kempul dinyanyikan ulang dengan versi dangdut oleh Orkes Palapa dan Monata.
Nama-nama penyanyi kendang kempul yang terkenal antara lain Sumiati, Alif S, Pelawak Cahyono, Emilia Contessa. Dari generasi yang lebih muda muncul nama Niken Arisandi, Catur ARum, Dyan Ratih, Renny Farida, Adestya Mayasari dan masih banyak lagi. Pada perkembangannya musik ini juga tercampur dengan dangdut versi koplo. Masuknya unsur koplo ini juga menimbulkan pertentangan di antara pegiat seni kendang kempul. Banyak pencipta lagu yang tidak mau lagunya dinyanyikan dengan versi Kendang kempul Koplo, meski dengan royalti yang besar.
Selain itu pada perkembangannya, selain unsur dangdut koplo. Kendang kempul juga mulai mencoba dikolaborasikan dengan beberapa musik yang terkenal sebut saja musik reaggea dan beberapa musik lainnya. Bahkan penyanyi sekaliber Nini Karlina dan Ikke Nurjannah pun pernah menggubah lagu Banyuwangi untuk album dangdut mereka.
Kesamaan dari kedua musik yang berkembang di jawa itu sama-sama kental bercerita tentang masalah hidup wong cilik, masalah cinta, masalah menikmati hidup dan juga nasehat yang sering disisipkan dalam syair lagunya.
Subscribe to:
Posts (Atom)

